Blogroll

Kamis, 27 Juni 2013

Bukan engkau tapi Dia

Sore itu ku langkahkan kakiku setapak demi setapak menyusuri lembutnya belaian angin yang berhembus sepoi – sepoi di tengah bisingnya suara – suara kendaraan yang lalu lalang melewati jalanan menuju arah kampus Univesitas Jember. Pikiranku terus melayang jauh hingga akhirnya sampai juga di tempat peraduanku selama kurang lebih dua tahun terakhir, rumah keduaku setelah aku memutuskan untuk berangkat meninggalkan rumah sementara guna mengenyam ilmu pendidikan yang kuharapkan dapat menjadi tangga menuju impian dan cita – citaku sekarang dan kelak.Tak mudah memang, dan butuh sedikit banyak usaha agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri selain dari faktor keberuntungan sendiri. Pikiranku terus melayang jauh tentang peristiwa yang terjadi dua tahun belakangan ini, tidak  mudah memang untuk mengatasinya, terkadang begitu penat aku merasakan hubungan yang ku kira akan berkahir bahagia dan selamanya seperti dalam dongeng – dongeng yang sering ditampilkan di layar kaca untuk dijadikan tontonan. Begitu complicated ku rasakan ibarat jarum dalam jerami yang sulit untuk dapat keluar dari  tumpukan jerami akan tetapi masih tetap saja menikmati setiap detik waktu yang berlalu.
Waktu itu, mentari bersinar cukup cerah sehingga aku bersiap untuk berangkat ke sekolah seperti biasannya dengan suasana hati yang penuh dengan semangat dan kebahagian. Bagaimana tidak, karena hari itu adalah hari pertama dimana aku berangkat sekolah tidak dengan jalan kaki, akan tetapi dijemput oleh seseorang siswa SMA yang kurasa begitu menawan hatiku dengan segala perbedaan yang kami punya, begitu membuatku mabuk kepayang , membuatku setengah gila dengan perasaan rindu yang kian mendalam, Dimas nama panggilan yang biasa di sebutkan oleh teman – temannya. Perasaan senang dan berbunga tak dapat kubendung untuk tidak terlihat oleh setiap pasang mata yang menatap, pancaran cahaya kebahagian kian terpancar jelas dibalik senyum yang ku lemparkan ke setiap orang yang kurasa pantas untuk menerimanya. Perlahan tapi pasti suara motor yang lembut mendekat ke arahku, dari jarak yang masih bisa ku jangkau dengan mata kulihat seorang laki – laki muda berseragam putih abu-abu kurang lebih masih berusia 17 tahunan dengan menaiki sebuah sepeda motor bebek berplat nomer dengan kode P, tersenyum ke arahku, dengan gayanya yang mempesona menurutku.
“ sudah lama menunggu ? maaf ya lama”
“nggak kok, santai aja. Lagian juga masih jam 06.10”
Kembali secercah senyuman yang begitu menawan terurai dari bibirnya yang merah merekah  bak buah delima yang masak.
“ kamu sudah sarapan?” sapanya dengan suara yang menyejukkan hati setiap wanita yang sedang kasmaran.
“belum” jawabku simple dan pendek.
“ya sudah kita sarapan dulu saja ya?”
“sarapan? Dimana?”
“hemm? Lihat nanti lah”
             Aku sedikit penasaran karena pertanyaanku belum terpecahkan olehnya, meskipun begitu tidak membuatku mengeluarkan amarah yang membara,  tidak tahu kenapa tapi rasanya seperti ada yang berbicara ya sudahlah, nanti juga tahu sendiri kemana tujuannya. Dan benar memang sekitar lima menit kurang lebih akhirnya kami sampai di warung makan yang tidak begitu besar namun lebih rapi tatanan letak dan propertinya serta tidak kalah bersih dengan rumah makan yang tersohor. Sekitar lima belas menit kami menghabiskan sarapan nasi pecel dengan sayur kangkung dan kecambah kecil yang tidak terlalu banyak ditambah dua buah tempe dan satu buah tahu lengkap dengan sambel kacang sedap dan rempeyek udang yang begitu renyah untuk segera disantap di hari yang masih berembun ditemani segelas penuh teh hangat yang membangkitkan selera makan.
             Jam tangan sudah menunjukkan tepat di angka antara 7 dan 6 yang menandakan sekarang sedang berada di zona waktu setengah tujuh pagi, sembari bercanda dan berbincang ringan kami berdua berjalan beriringan meskipun tidak dengan bergandeng tangan tapi aku yakin ada hati yang diam – diam membicarakan keakraban kami berdua, yang tentunya tidak mereka duga dan tidak pernah mengira, laksana impossible both of you. Sesampainya di kelas kami berdua mulai duduk di bangku masing – masing, dan benar saja sekitar lima menit kemudian Pak Budi selaku pengajar pelajaran Matematika datang dan segera masuk kelas untuk memulai hari itu dengan sedikit sentuhan mata yang tajam tapi tetap lembut dan kulitnya yang sawo matang dengan kumis tebal dan tentunya dengan postur tubuh kekar yang selalu membuat kami sedikit banyak takut dengan beliau, sehingga selalu melaksakan setiap perintah yang ditugaskan pada kami tanpa sedikitpun mempunyai keberanian untuk tidak mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Benar -  benar telah berhasil membangkitkan selera untuk selalu belajar setiap saat, bagaimana tidak karena guru yang satu ini adalah guru yang sangat disiplin dengan segala kekuasaannya kepada seluruh siswa disamping menjabat sebagai wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.
             Tanpa terasa pelajaran matematika sudah menuju titik puncak pada hari itu, dan tentunya dengan akhir pemberian tugas yang membuat kami sebagian para siswa selalu menarik napas panjang, ada juga yang menggelengkan kepala dengan ekspresi kaget, diam sambil tersenyum aneh dan yang pasti satu kata yang banyak keluar dari lisan – lisan siswa adalah biyuh, banyaknya. Selisih waktu jam pelajaran antara matematika menuju Biologi memang tidak terlalu lama, namun hari itu tenyata guru kami mata pelajaran biologi tidak dapat hadir karena ada kepentingan sehingga membuat kelas ku kosong. Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh siswa di kelasku, mulai dari sibuk dengan membaca buku sendiri, diskusi kelompok, berbincang ria dengan teman sebangku hingga memainkan handphone tak luput dari aktivitas yang dilakukan tapi masih tetap dalam kelas. Aku dan Dimas memilih untuk keluar kelas menuju perpustakaan bersama teman dekatku Anggi yang sekaligus teman sebangkuku dengan dua anak laki – laki yang lain yang tentunya masih teman sekelas ku, Rizal dan Andi.Kami berlima mulai menyusuri rak buku satu – persatu untuk menemukan buku apa yang akan Kami baca, aku dan Anggi berjalan beriringan memilah dan memilih setiap tatanan buku yang berjajar rapi sembari berbincang kecil.
“Rum, kamu jadian sama Dimas ? “ tanyanya dengan nada to the poin.
“ha? Kata siapa?”
“nggak kata siapa siapa, Cuma memperhatikan tingkah kalian selama ini, sepertinya ada yang lagi kasmaran “ jawab Anggi sambil tersenyum geli.
Aku masih terdiam tak memberikan jawaban atas pertanyaannnya.
“ Mata kalian tidak bisa berbohong Rum, kalau telah terjadi sesuatu di antara kalian, lagian aku ini kan sahabatmu, aku sudah tau gimana kamu. Nggak tau juga benar apa salah si, Cuma mencoba menebak aja, kalau sebenarnya kalian berdua sudah” Anggi tak meneruskan kalimatnya.
“?”
Aku masih terdiam sambil membaca buku yang tengah ku pegang sambil mendengarkan kalimat Anggi yang belum dilengkapinya. Mataku masih tetap memandang setiap kata- kata yang tertulis dalam lembaran yang tengah ku cerna apa maksud dari kalimat tersebut. Anggi menoleh ke arahku yang ku rasa tatapan matanya begitu memusat ke arahku tajam seakan ingin menggoyang – nggoyangkan badanku sambil berkata cepet jawab Harum kalau tidak ...
“Rum”
“hmm? Iya kenapa Nggi?”
“kamu ini,  jawab lah pertanyaanku.” Sambil memajang bibir yang ke depan.
“pertanyaan yang mana?”
“ya Tuhan, kamu ini pinter tapi lola banget “
Aku hanya tersenyum melihat gelagat temanku yang lucu menurutku dengan pantomim wajah kesal. “ menurut kamu ?”
“kalian jadian?”
Hanya senyum yang bisa ku berikan sebagai tanda jawaban atas pertanyaannya, dan aku harap Anggi tahu maksud dari senyumanku.
“ waah, bener kan ternyata, kamu ini, kapan kalian jadian? Gak cerita – cerita, jahat !”
“apa aku harus mengumumkan ke semua orang? Perlu ta?”
“iya nggak juga si, tapi secara aku ini sahabatmu Rum, tapi apa kamu yakin? Sejak kapan si kamu suka Dimas? Pinter banget kamu nutupi Rum,”
“biarkan waktu yang akan menjawab”
“tapi kan dia itu...”
“aku tahu dan sadar, tapi aku juga tidak tahu mengapa aku bisa menjalani hubungan ini, ku rasakan ada sesuatu yang berbeda, dan aku selalu berharap semua akan baik – baik saja, terkadang sebuah perasaan mengasihi itu tidak memandang perbedaan, yang diketahui hanya perasaan yang begitu aneh tanpa sebab, bahagia ketika kamu berada di dekatnya, bingung saat dia mengacuhkanmu, dan menjadi salah tingkah saat dia menatapmu”
“aku juga berharap all is well”
“nyari buku apa?” tiba – tiba sebuah suara yang tidak asing bagiku terdengar begitu dekat dan nyata di sampiku dan Anggi. Dimas, Andi dan Rizal yang entah darimana berasal tiba – tiba saja sudah berdiri di samping barisan rak tempatku dan Anggi berada .
“astaghfirullah, kalian mengagetkanku” kataku dengan intonasi kaget.
“eeh, ada yang jadian nii, PJ, PJ,PJ, wajib bayar PJ” kata Rizal dengan tertawa kecil.
“wooh, iya wajib itu, dimana enaknya, Smart cafe, cafe Resto, D’java, Extreem, atau.... warteg?” Andi menambahi.
“ siapa yang jadian?” sahut Dimas menimpali.
“beee, pura – pura nggak tahu”
“maksudnya?”
“udahlah Dimas Harum, udah ngaku aja, pakek malu – malu tapi mau” kata Andi sambil menepuk bahu Dimas.
“PJ apa si ?” kataku menimpali.
“Ya ampun Annisa Harum Candra Kirana, katrogh banget sii, makanya gaul dikit dong, buku terus yang di pegang, sekali – kali buka lah itu TV di rumah “
“ ngina banget si, sapa bilang aku nggak pernah lihat TV?”
“itu PJ aja nggak tau”
“tahu Pajak Jadian kan maksudnya?”
“naah, pas mantab” tiba – tiba Anggi menjawab sambil tertawa.
Kami berlimapun tertawa bersama – sama. “Stttttt, dilarang berisik, mengganggu ketentraman umum “ kata Anggi sambil menutup mulutnya dengan isyarat mendekatkan  telunjuk jari ke bibir.
             Hari demi hari ku lalui dengan penuh semangat meskipun seringkali perasaan was – was itu tetap datang, keraguan akan terus melangsungkan hubungan ini, sebuah hubungan yang aku sendiri tak pernah tahu bagaimana bisa bertahan hingga angka 515 hari setelah aku dan Dimas menyatakan bahwa kami akan berkomitmen bersama untuk menjalin sebuah hubungan bukan hanya sekedar hubungan untuk menyatakan diri bukan single, tetapi sebuah hubungan yang kami harapkan akan bertahan dan mampu bertahan hingga nanti saat masanya tiba dengan menjaga apa yang seharusnya dijaga sebagai manusia yang berakhlak dan berguna bagi semua manusia. Meskipun perbedaan di antara kami adalah nyata dan tidak dapat ditawar adalah salah satu hal dari dari kami masing – masing untuk tetap mempertahankan perbedaan itu, tetap meyakini pribadi masing – masing akan mampu berjalan beriringan dengan tanpa memapermasalahkan apa yang membuat kami berbeda, suatu keyakinan yang mungkin terlihat sedikit arrogant, tapi itulah komitmen kami. Di samping itu masih tetap tersimpan dalam diri kami jika suatu saat nanti perbedaan akan berubah menjadi satu dan menjadi satu kesamaan  yang indah.
             Dimas Cakra Wibisono, tubuhnya tidak terlalu kekar dengan warna kulit sedikit sawo langsat tapi mengarah ke putih bersih. Perawakan sedang dan tidak terlalu pendek sekitar 175 cm dengan berat sekitar 69 kg, berambut lurus hitam potongan rapi dan gaya tampilan yang casual serta tidak neko – neko, rupanya  membuat sebagian besar wanita merasa iri terhadapku karena telah  merebut hati pujaan mereka. Sifatnya memang  sedikit keras namun masih tetap sopan dengan gaya bicara dan tingkah laku yang selalu terlihat cool. Pola pikir yang dewasa dan  kemampuan di atas rata – rata dalam belajar semakin membuat manusia ciptaan Tuhan ini menjadi pria idaman setiap wanita, ditambah lagi wajahnya yang menawan asli khas Indonesia dengan tingkat kereligiusan yang cukup membuatku seakan menjadi wanita beruntung karena telah mampu meluluhkan hati seorang laki – laki yang penuh tanggungjawab terhadap segala hal ini.  Namun semua  keberuntungan itu seakan hilang ketika ku kaitkan dengan perbedaan yang ada, perbedaan yang menyangkut masa depanku dan dia bukan hanya di dunia semata namun juga di alam kuasa Tuhan yang belum dapat terjangkau oleh daya khayalan saat ini, perbedaan yang nyata dan tidak dapat ditawar, perbedaan yang begitu menyulitkan hati, perbedaan yang aku sendiri tidak tau mengapa harus ada. Sering ku dengar kata – kata cinta ada untuk menyatukan perbedaan, ntahlah yang pasti terkadang aku masih ragu terhadap ungkapan tersebut bagaimana tidak, kalau perbedaan yang dimaksud adalah untuk saling melengkapi antara kekurangan satu sama lain, ya itu adalah hal yang baik, bagaimana denganku? mungkin ada banyak orang di luar sana sedang menjalin hubungan seperti yang ku alamai saat ini, mungkin mereka sama berpikirnya dengan aku saat pertama kali berkomitmen dengannnya dulu, sekali lagi mungkin. Sekarang adalah sekarang kita jalani saja seperti air yang mengalir nanti suatu saat air itu akan bermuara ke laut, sama halnya seperti kita menjalani hubungan ini dengan baik maka suatu saat akan menjadi satu dalam kesatuan yang utuh. Sesungguhnya harapan dari perbedaan adalah sama halnya seperti sandal, ada bagian kiri dan ada bagian kanan, mereka selalu berjalan beriringan meski tidak sama, setiap yang satu ke depan pasti yang lain ke belakang, tapi begitulah mereka saling melengkapi agar mampu berjalan menuju tujuan yang sama.
             Tidak untukku, untuk kasusku. Aku memang begitu mengasihinya, mengasihi setiap kekurangan dan kelebihanya, berusaha untuk dapat melakukan yang terbaik untuknya dan untukku, namun ternyata perbedaan ini kian sulit untukku. Sulit untukku yang mencintainya dengan sepenuh hatiku, dia yang kurasa pria nyaris sempurna namun tidak. aku seorang muslim, kepercayaan ini  kepercayaanku yang kurasa paling baik untukku, agama yang paling damai paling tentram untukku, bukan hanya sekedar kepercayaan semata namun juga hidup dan matiku, keyakinan yang sudah melekat dalam darahku , dalam sanubariku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap detakkan jantungku dan dalam setiap irama tingkah laku. Tak akan mungkin dan tak akan rela aku meninggalkannya demi yang lain, bukan untukmu kekasih meskipun engkau seseorang yang teramat kucintai dalam hidupku setelah ibu bapakku, namun untukNya. Dialah pemilik alam semesta Tuhan yang Maha Kuasa, aku tak akan mampu berpaling dari Tuhanku, kita memang saling mencintai saling mengasihi, saling menghormati dan menghargai antara agamaku dan  agamamu, namun tetap tidak bisa aku meninggalkanNya begitu saja dan mengikuti ajaranmu, karena kita berbeda dan perbedaan itu kian nyata, saat aku mencoba untuk melepaskanmu yang telah merajai hatiku. Cintaku padamu begitu besar sehingga tidak dapat kuungkapkan dengan kata – kata dan syair lagu yang indah namun cintaku kepada Dia sang penciptaku lebih besar dari apapun di dunia ini, melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Dialah Allah segalanya untukku, tempat ku meminta, mengadu, menangis, tertawa, bahagia, bersedih, dan segala hal Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Sedangkan engkau dengan keyakinanmu terhadap Tuhanmu dalam ajaran agamamu yang berbeda denganku, ini sungguh hal yang sulit ku jalani.
             Aku tahu kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu begitupun dengan aku yang mencintaimu dengan sepenuh hatiku, ketulusan yang menyatukan kita. Perbedaan tetaplah berbeda, perbedaan tidak akan menjadi sama terkecuali kita yang menyatukannya dalam persamaan yang nyata, engkau ikut masuk dalam ajaranku atau sebaliknya. Namun kita memang berbeda, dilahirkan untuk memiliki perbedaan, aku dan kamu dua insan yang dimabuk cinta, dua insan yang saling percaya terhadap keyakinan kkita masing – masing, tak ada paksaan untukmu agar kau masuk mengikuti keyakinanku, begitupun sebaliknya tak ada paksaan untukku untuk ikut memilih pedoman hidup yang telah kau yakini. Hanya hati nurani yang mampu berbicara, mampu merasakan pilihan apa yang harus kita pilih, pilihan yang akan menentukan jalan kita mulai saat ini dan di masa depan, ku tahu ini memang sulit tapi semuanya akan lebih sulit saat kita tidak pernah berfikir ke arah yang lebih baik, akan lebih sulit saat kita menjalin hubungan hingga nanti detik – detik persatuan kita, akan lebih sulit memutuskan sesuatu itu baik atau tidak jika kita tidak mengkaji lebih dalam dengan logika namun begitu tidak semua hal dapat dilogika ada beberapa hal dan banyak hal yang tidak bisa ternalar oleh logika tapi hanya mampu ternalar oleh perasaan.
             Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua untukku dan untukmu, setelah sekian lama kita berdua menjalin kasih, aku yang terlalu menyayangimu dan sebaliknya. Namun ternyata rasa syukurku kian bertambah setelah mengenalmu, cintamu kepada Tuhanmu lebih besar daripada untukku, dan aku, cintaku kepada Tuhanku lebih besar dari apapun, namun aku yakin kita akan menemukan jalan kita masing – masing, jalan yang indah menuju dunia dan keindahan untuk akherat. Aku mengasihimu karena Dia, bukan engkau yang kupilih namun Dia.
             Tidak terasa air mata membasai kedua pipiku, menyadarkanku bahwa semua itu sudah berlalu, segara ku tengok jam kecil di atas tempat tidurku yang telah menunjukkan angka 6, dan suara adzan masih dapat ku dengar dari dalam kamar kosku, segera ku bergegas menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan ibadah sholat maghrib. Aku tersenyum mengingat semua itu, dan segala puji kupanjatkan kepadaMu Tuhanku hingga aku seperti ini, berharap selalu Engkau kasihi dan selalu Engkau ridhoi setiap niatan hamba untuk segala kebaikan hamba, karena aku tahu Engkau Maha Tahu terhadap apa yang terbaik untuk hambamu. My God is only You.


0 komentar:

Posting Komentar