Bukan engkau tapi Dia
Sore itu ku langkahkan kakiku
setapak demi setapak menyusuri lembutnya belaian angin yang berhembus sepoi –
sepoi di tengah bisingnya suara – suara kendaraan yang lalu lalang melewati
jalanan menuju arah kampus Univesitas Jember. Pikiranku terus melayang jauh
hingga akhirnya sampai juga di tempat peraduanku selama kurang lebih dua tahun
terakhir, rumah keduaku setelah aku memutuskan untuk berangkat meninggalkan
rumah sementara guna mengenyam ilmu pendidikan yang kuharapkan dapat menjadi
tangga menuju impian dan cita – citaku sekarang dan kelak.Tak mudah memang, dan
butuh sedikit banyak usaha agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri
selain dari faktor keberuntungan sendiri. Pikiranku terus melayang jauh tentang
peristiwa yang terjadi dua tahun belakangan ini, tidak mudah memang untuk mengatasinya, terkadang
begitu penat aku merasakan hubungan yang ku kira akan berkahir bahagia dan
selamanya seperti dalam dongeng – dongeng yang sering ditampilkan di layar kaca
untuk dijadikan tontonan. Begitu complicated ku rasakan ibarat jarum dalam
jerami yang sulit untuk dapat keluar dari
tumpukan jerami akan tetapi masih tetap saja menikmati setiap detik
waktu yang berlalu.
Waktu itu, mentari bersinar cukup
cerah sehingga aku bersiap untuk berangkat ke sekolah seperti biasannya dengan
suasana hati yang penuh dengan semangat dan kebahagian. Bagaimana tidak, karena
hari itu adalah hari pertama dimana aku berangkat sekolah tidak dengan jalan
kaki, akan tetapi dijemput oleh seseorang siswa SMA yang kurasa begitu menawan
hatiku dengan segala perbedaan yang kami punya, begitu membuatku mabuk kepayang
, membuatku setengah gila dengan perasaan rindu yang kian mendalam, Dimas nama
panggilan yang biasa di sebutkan oleh teman – temannya. Perasaan senang dan berbunga
tak dapat kubendung untuk tidak terlihat oleh setiap pasang mata yang menatap,
pancaran cahaya kebahagian kian terpancar jelas dibalik senyum yang ku
lemparkan ke setiap orang yang kurasa pantas untuk menerimanya. Perlahan tapi
pasti suara motor yang lembut mendekat ke arahku, dari jarak yang masih bisa ku
jangkau dengan mata kulihat seorang laki – laki muda berseragam putih abu-abu
kurang lebih masih berusia 17 tahunan dengan menaiki sebuah sepeda motor bebek
berplat nomer dengan kode P, tersenyum ke arahku, dengan gayanya yang mempesona
menurutku.
“ sudah lama menunggu ? maaf ya lama”
“nggak kok, santai aja. Lagian juga masih jam 06.10”
Kembali secercah senyuman yang begitu menawan terurai dari
bibirnya yang merah merekah bak buah
delima yang masak.
“ kamu sudah sarapan?” sapanya dengan suara yang
menyejukkan hati setiap wanita yang sedang kasmaran.
“belum” jawabku simple dan pendek.
“ya sudah kita sarapan dulu saja ya?”
“sarapan? Dimana?”
“hemm? Lihat nanti lah”
Aku
sedikit penasaran karena pertanyaanku belum terpecahkan olehnya, meskipun
begitu tidak membuatku mengeluarkan amarah yang membara, tidak tahu kenapa tapi rasanya seperti ada
yang berbicara ya sudahlah, nanti juga tahu sendiri kemana tujuannya. Dan benar
memang sekitar lima menit kurang lebih akhirnya kami sampai di warung makan
yang tidak begitu besar namun lebih rapi tatanan letak dan propertinya serta
tidak kalah bersih dengan rumah makan yang tersohor. Sekitar lima belas menit
kami menghabiskan sarapan nasi pecel dengan sayur kangkung dan kecambah kecil
yang tidak terlalu banyak ditambah dua buah tempe dan satu buah tahu lengkap
dengan sambel kacang sedap dan rempeyek udang yang begitu renyah untuk segera
disantap di hari yang masih berembun ditemani segelas penuh teh hangat yang
membangkitkan selera makan.
Jam
tangan sudah menunjukkan tepat di angka antara 7 dan 6 yang menandakan sekarang
sedang berada di zona waktu setengah tujuh pagi, sembari bercanda dan
berbincang ringan kami berdua berjalan beriringan meskipun tidak dengan
bergandeng tangan tapi aku yakin ada hati yang diam – diam membicarakan
keakraban kami berdua, yang tentunya tidak mereka duga dan tidak pernah
mengira, laksana impossible both of you. Sesampainya di kelas kami berdua mulai
duduk di bangku masing – masing, dan benar saja sekitar lima menit kemudian Pak
Budi selaku pengajar pelajaran Matematika datang dan segera masuk kelas untuk
memulai hari itu dengan sedikit sentuhan mata yang tajam tapi tetap lembut dan
kulitnya yang sawo matang dengan kumis tebal dan tentunya dengan postur tubuh
kekar yang selalu membuat kami sedikit banyak takut dengan beliau, sehingga
selalu melaksakan setiap perintah yang ditugaskan pada kami tanpa sedikitpun
mempunyai keberanian untuk tidak mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Benar
- benar telah berhasil membangkitkan
selera untuk selalu belajar setiap saat, bagaimana tidak karena guru yang satu
ini adalah guru yang sangat disiplin dengan segala kekuasaannya kepada seluruh
siswa disamping menjabat sebagai wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.
Tanpa
terasa pelajaran matematika sudah menuju titik puncak pada hari itu, dan
tentunya dengan akhir pemberian tugas yang membuat kami sebagian para siswa
selalu menarik napas panjang, ada juga yang menggelengkan kepala dengan
ekspresi kaget, diam sambil tersenyum aneh dan yang pasti satu kata yang banyak
keluar dari lisan – lisan siswa adalah biyuh, banyaknya. Selisih waktu jam
pelajaran antara matematika menuju Biologi memang tidak terlalu lama, namun
hari itu tenyata guru kami mata pelajaran biologi tidak dapat hadir karena ada
kepentingan sehingga membuat kelas ku kosong. Berbagai macam kegiatan dilakukan
oleh siswa di kelasku, mulai dari sibuk dengan membaca buku sendiri, diskusi
kelompok, berbincang ria dengan teman sebangku hingga memainkan handphone tak
luput dari aktivitas yang dilakukan tapi masih tetap dalam kelas. Aku dan Dimas
memilih untuk keluar kelas menuju perpustakaan bersama teman dekatku Anggi yang
sekaligus teman sebangkuku dengan dua anak laki – laki yang lain yang tentunya
masih teman sekelas ku, Rizal dan Andi.Kami berlima mulai menyusuri rak buku
satu – persatu untuk menemukan buku apa yang akan Kami baca, aku dan Anggi
berjalan beriringan memilah dan memilih setiap tatanan buku yang berjajar rapi
sembari berbincang kecil.
“Rum, kamu jadian sama Dimas ? “
tanyanya dengan nada to the poin.
“ha? Kata siapa?”
“nggak kata siapa siapa, Cuma
memperhatikan tingkah kalian selama ini, sepertinya ada yang lagi kasmaran “
jawab Anggi sambil tersenyum geli.
Aku masih terdiam tak memberikan
jawaban atas pertanyaannnya.
“ Mata kalian tidak bisa berbohong
Rum, kalau telah terjadi sesuatu di antara kalian, lagian aku ini kan
sahabatmu, aku sudah tau gimana kamu. Nggak tau juga benar apa salah si, Cuma
mencoba menebak aja, kalau sebenarnya kalian berdua sudah” Anggi tak meneruskan
kalimatnya.
“?”
Aku masih terdiam sambil membaca
buku yang tengah ku pegang sambil mendengarkan kalimat Anggi yang belum
dilengkapinya. Mataku masih tetap memandang setiap kata- kata yang tertulis
dalam lembaran yang tengah ku cerna apa maksud dari kalimat tersebut. Anggi
menoleh ke arahku yang ku rasa tatapan matanya begitu memusat ke arahku tajam
seakan ingin menggoyang – nggoyangkan badanku sambil berkata cepet jawab Harum
kalau tidak ...
“Rum”
“hmm? Iya kenapa Nggi?”
“kamu ini, jawab lah pertanyaanku.” Sambil memajang
bibir yang ke depan.
“pertanyaan yang mana?”
“ya Tuhan, kamu ini pinter tapi lola
banget “
Aku hanya tersenyum melihat gelagat
temanku yang lucu menurutku dengan pantomim wajah kesal. “ menurut kamu ?”
“kalian jadian?”
Hanya senyum yang bisa ku berikan
sebagai tanda jawaban atas pertanyaannya, dan aku harap Anggi tahu maksud dari
senyumanku.
“ waah, bener kan ternyata, kamu
ini, kapan kalian jadian? Gak cerita – cerita, jahat !”
“apa aku harus mengumumkan ke semua
orang? Perlu ta?”
“iya nggak juga si, tapi secara aku
ini sahabatmu Rum, tapi apa kamu yakin? Sejak kapan si kamu suka Dimas? Pinter
banget kamu nutupi Rum,”
“biarkan waktu yang akan menjawab”
“tapi kan dia itu...”
“aku tahu dan sadar, tapi aku juga
tidak tahu mengapa aku bisa menjalani hubungan ini, ku rasakan ada sesuatu yang
berbeda, dan aku selalu berharap semua akan baik – baik saja, terkadang sebuah
perasaan mengasihi itu tidak memandang perbedaan, yang diketahui hanya perasaan
yang begitu aneh tanpa sebab, bahagia ketika kamu berada di dekatnya, bingung
saat dia mengacuhkanmu, dan menjadi salah tingkah saat dia menatapmu”
“aku juga berharap all is well”
“nyari buku apa?” tiba – tiba sebuah
suara yang tidak asing bagiku terdengar begitu dekat dan nyata di sampiku dan
Anggi. Dimas, Andi dan Rizal yang entah darimana berasal tiba – tiba saja sudah
berdiri di samping barisan rak tempatku dan Anggi berada .
“astaghfirullah, kalian
mengagetkanku” kataku dengan intonasi kaget.
“eeh, ada yang jadian nii, PJ,
PJ,PJ, wajib bayar PJ” kata Rizal dengan tertawa kecil.
“wooh, iya wajib itu, dimana
enaknya, Smart cafe, cafe Resto, D’java, Extreem, atau.... warteg?” Andi
menambahi.
“ siapa yang jadian?” sahut Dimas
menimpali.
“beee, pura – pura nggak tahu”
“maksudnya?”
“udahlah Dimas Harum, udah ngaku
aja, pakek malu – malu tapi mau” kata Andi sambil menepuk bahu Dimas.
“PJ apa si ?” kataku menimpali.
“Ya ampun Annisa Harum Candra Kirana,
katrogh banget sii, makanya gaul dikit dong, buku terus yang di pegang, sekali
– kali buka lah itu TV di rumah “
“ ngina banget si, sapa bilang aku
nggak pernah lihat TV?”
“itu PJ aja nggak tau”
“tahu Pajak Jadian kan maksudnya?”
“naah, pas mantab” tiba – tiba Anggi
menjawab sambil tertawa.
Kami berlimapun tertawa bersama –
sama. “Stttttt, dilarang berisik, mengganggu ketentraman umum “ kata Anggi
sambil menutup mulutnya dengan isyarat mendekatkan telunjuk jari ke bibir.
Hari
demi hari ku lalui dengan penuh semangat meskipun seringkali perasaan was – was
itu tetap datang, keraguan akan terus melangsungkan hubungan ini, sebuah
hubungan yang aku sendiri tak pernah tahu bagaimana bisa bertahan hingga angka
515 hari setelah aku dan Dimas menyatakan bahwa kami akan berkomitmen bersama
untuk menjalin sebuah hubungan bukan hanya sekedar hubungan untuk menyatakan diri
bukan single, tetapi sebuah hubungan yang kami harapkan akan bertahan dan mampu
bertahan hingga nanti saat masanya tiba dengan menjaga apa yang seharusnya
dijaga sebagai manusia yang berakhlak dan berguna bagi semua manusia. Meskipun
perbedaan di antara kami adalah nyata dan tidak dapat ditawar adalah salah satu
hal dari dari kami masing – masing untuk tetap mempertahankan perbedaan itu,
tetap meyakini pribadi masing – masing akan mampu berjalan beriringan dengan
tanpa memapermasalahkan apa yang membuat kami berbeda, suatu keyakinan yang
mungkin terlihat sedikit arrogant, tapi itulah komitmen kami. Di samping itu
masih tetap tersimpan dalam diri kami jika suatu saat nanti perbedaan akan
berubah menjadi satu dan menjadi satu kesamaan
yang indah.
Dimas
Cakra Wibisono, tubuhnya tidak terlalu kekar dengan warna kulit sedikit sawo
langsat tapi mengarah ke putih bersih. Perawakan sedang dan tidak terlalu
pendek sekitar 175 cm dengan berat sekitar 69 kg, berambut lurus hitam potongan
rapi dan gaya tampilan yang casual serta tidak neko – neko, rupanya membuat sebagian besar wanita merasa iri
terhadapku karena telah merebut hati
pujaan mereka. Sifatnya memang sedikit
keras namun masih tetap sopan dengan gaya bicara dan tingkah laku yang selalu
terlihat cool. Pola pikir yang dewasa dan kemampuan di atas rata – rata dalam belajar
semakin membuat manusia ciptaan Tuhan ini menjadi pria idaman setiap wanita,
ditambah lagi wajahnya yang menawan asli khas Indonesia dengan tingkat
kereligiusan yang cukup membuatku seakan menjadi wanita beruntung karena telah
mampu meluluhkan hati seorang laki – laki yang penuh tanggungjawab terhadap
segala hal ini. Namun semua keberuntungan itu seakan hilang ketika ku
kaitkan dengan perbedaan yang ada, perbedaan yang menyangkut masa depanku dan
dia bukan hanya di dunia semata namun juga di alam kuasa Tuhan yang belum dapat
terjangkau oleh daya khayalan saat ini, perbedaan yang nyata dan tidak dapat
ditawar, perbedaan yang begitu menyulitkan hati, perbedaan yang aku sendiri
tidak tau mengapa harus ada. Sering ku dengar kata – kata cinta ada untuk
menyatukan perbedaan, ntahlah yang pasti terkadang aku masih ragu terhadap
ungkapan tersebut bagaimana tidak, kalau perbedaan yang dimaksud adalah untuk
saling melengkapi antara kekurangan satu sama lain, ya itu adalah hal yang
baik, bagaimana denganku? mungkin ada banyak orang di luar sana sedang menjalin
hubungan seperti yang ku alamai saat ini, mungkin mereka sama berpikirnya
dengan aku saat pertama kali berkomitmen dengannnya dulu, sekali lagi mungkin.
Sekarang adalah sekarang kita jalani saja seperti air yang mengalir nanti suatu
saat air itu akan bermuara ke laut, sama halnya seperti kita menjalani hubungan
ini dengan baik maka suatu saat akan menjadi satu dalam kesatuan yang utuh.
Sesungguhnya harapan dari perbedaan adalah sama halnya seperti sandal, ada
bagian kiri dan ada bagian kanan, mereka selalu berjalan beriringan meski tidak
sama, setiap yang satu ke depan pasti yang lain ke belakang, tapi begitulah
mereka saling melengkapi agar mampu berjalan menuju tujuan yang sama.
Tidak
untukku, untuk kasusku. Aku memang begitu mengasihinya, mengasihi setiap
kekurangan dan kelebihanya, berusaha untuk dapat melakukan yang terbaik
untuknya dan untukku, namun ternyata perbedaan ini kian sulit untukku. Sulit
untukku yang mencintainya dengan sepenuh hatiku, dia yang kurasa pria nyaris
sempurna namun tidak. aku seorang muslim, kepercayaan ini kepercayaanku yang kurasa paling baik untukku,
agama yang paling damai paling tentram untukku, bukan hanya sekedar kepercayaan
semata namun juga hidup dan matiku, keyakinan yang sudah melekat dalam darahku
, dalam sanubariku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap detakkan
jantungku dan dalam setiap irama tingkah laku. Tak akan mungkin dan tak akan
rela aku meninggalkannya demi yang lain, bukan untukmu kekasih meskipun engkau
seseorang yang teramat kucintai dalam hidupku setelah ibu bapakku, namun untukNya.
Dialah pemilik alam semesta Tuhan yang Maha Kuasa, aku tak akan mampu berpaling
dari Tuhanku, kita memang saling mencintai saling mengasihi, saling menghormati
dan menghargai antara agamaku dan
agamamu, namun tetap tidak bisa aku meninggalkanNya begitu saja dan
mengikuti ajaranmu, karena kita berbeda dan perbedaan itu kian nyata, saat aku
mencoba untuk melepaskanmu yang telah merajai hatiku. Cintaku padamu begitu
besar sehingga tidak dapat kuungkapkan dengan kata – kata dan syair lagu yang
indah namun cintaku kepada Dia sang penciptaku lebih besar dari apapun di dunia
ini, melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Dialah Allah segalanya untukku,
tempat ku meminta, mengadu, menangis, tertawa, bahagia, bersedih, dan segala
hal Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Sedangkan engkau dengan
keyakinanmu terhadap Tuhanmu dalam ajaran agamamu yang berbeda denganku, ini
sungguh hal yang sulit ku jalani.
Aku
tahu kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu begitupun dengan aku yang
mencintaimu dengan sepenuh hatiku, ketulusan yang menyatukan kita. Perbedaan
tetaplah berbeda, perbedaan tidak akan menjadi sama terkecuali kita yang
menyatukannya dalam persamaan yang nyata, engkau ikut masuk dalam ajaranku atau
sebaliknya. Namun kita memang berbeda, dilahirkan untuk memiliki perbedaan, aku
dan kamu dua insan yang dimabuk cinta, dua insan yang saling percaya terhadap
keyakinan kkita masing – masing, tak ada paksaan untukmu agar kau masuk
mengikuti keyakinanku, begitupun sebaliknya tak ada paksaan untukku untuk ikut
memilih pedoman hidup yang telah kau yakini. Hanya hati nurani yang mampu
berbicara, mampu merasakan pilihan apa yang harus kita pilih, pilihan yang akan
menentukan jalan kita mulai saat ini dan di masa depan, ku tahu ini memang
sulit tapi semuanya akan lebih sulit saat kita tidak pernah berfikir ke arah
yang lebih baik, akan lebih sulit saat kita menjalin hubungan hingga nanti
detik – detik persatuan kita, akan lebih sulit memutuskan sesuatu itu baik atau
tidak jika kita tidak mengkaji lebih dalam dengan logika namun begitu tidak
semua hal dapat dilogika ada beberapa hal dan banyak hal yang tidak bisa
ternalar oleh logika tapi hanya mampu ternalar oleh perasaan.
Mungkin
ini jalan yang terbaik untuk kita berdua untukku dan untukmu, setelah sekian
lama kita berdua menjalin kasih, aku yang terlalu menyayangimu dan sebaliknya.
Namun ternyata rasa syukurku kian bertambah setelah mengenalmu, cintamu kepada
Tuhanmu lebih besar daripada untukku, dan aku, cintaku kepada Tuhanku lebih
besar dari apapun, namun aku yakin kita akan menemukan jalan kita masing –
masing, jalan yang indah menuju dunia dan keindahan untuk akherat. Aku
mengasihimu karena Dia, bukan engkau yang kupilih namun Dia.
Tidak
terasa air mata membasai kedua pipiku, menyadarkanku bahwa semua itu sudah berlalu,
segara ku tengok jam kecil di atas tempat tidurku yang telah menunjukkan angka
6, dan suara adzan masih dapat ku dengar dari dalam kamar kosku, segera ku
bergegas menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan
ibadah sholat maghrib. Aku tersenyum mengingat semua itu, dan segala puji
kupanjatkan kepadaMu Tuhanku hingga aku seperti ini, berharap selalu Engkau
kasihi dan selalu Engkau ridhoi setiap niatan hamba untuk segala kebaikan
hamba, karena aku tahu Engkau Maha Tahu terhadap apa yang terbaik untuk
hambamu. My God is only You.






.jpg)

.jpg)
.jpg)





